Selasa, 15 Mei 2007

MENJADI GUSTI

Menuju derajat “takwa” yang hakiki perlu perjuangan yang berat. Nglakoni tahap demi tahap dengan sabar, awas, eling dan waspada agar “ngelmu” kita semakin sempurna.

Adalah sebuah keharusan bila kita ingin peningkatan kualitas spiritual kita, maka kita dianjurkan untuk mengarahkan orientasi dari “luar” menuju ke “dalam”, kemudian mengarah lagi ke “luar” dan terakhir ke “dalam” lagi. Berikut keempat tahap itu:

I.

Sebagaimana perjalanan para nabi dalam sejarah, Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad SAW dan seterusnya…atau nabi Budha. Lahir, anak-anak dan beranjak remaja dia mengamati lingkungan sekitarnya. Tarafnya adalah olah indera dan raga, latihan kepekaan dan penajaman indera mata, telinga, perabaan kulit, menyerap dan menghembuskan nafas dan mulut untuk merasakan sesuatu. Berbagai pengalaman luar dirasakan oleh indera. Mata melihat bagaimana perjalanan kehidupan manusia: Lahir, remaja, dewasa, sakit, tua, mati…. Ini adalah tahap pemusatan ke luar… ke benda-benda / obyek-obyek khusus SAMANTA BHAVANA.

II.

Tahap selanjutnya, mengarahkan pemusatan perhatian atau orientasi hidup ke “dalam”. Mulailah kita merenungkan hubungan sebab akibat, kenapa ada orang hidup..kenapa ada orang mati.. kenapa manusia dihidupkan, apa hakikat hidup… Apa penyebab semua yang hidup? Bila ada Sang Pencipta, kenapa dia menciptakan kita? …. Konsentrasi diarahkan ke pergerakan akal yang diliputi oleh batin/rasa pangrasa. Akal menemukan hakikat, rasa melanjutkan dengan penghayatan. Tuhan ditemukan melalui logika, dilanjutkan dengan mengakui dan mengimani keberadaannya. Terjadi evolusi pada setiap fase.

Ruhani manusia terus bermetamorfosis; dari orientasi jasad fisik, kemudian beralih konsentrasi ke batin. Dia mengolah batinnya, kejadian demi kejadian yang dialami dalam pengalaman nyata berhasil diambil kesimpulan bahwa SEMUA YANG ADA INI ADA HIKMAHNYA. Hikmah apa? Hikmah untuk memaknai perjalanan hidup ini dengan benar, lurus dan terbukanya pintu kebenaran. Shiratal mustaqim yakni jalan yang lurus. Jalan apa? Jalan kehendak, akal, nafsu menuju iradat Gusti. Jalan yang mengarah lurus itulah yang benar. Tanda-tanda orang yang sudah mencapai tahap benar ini adalah terbuka terhadap semua pandangan yang berbeda. Mampu meresapi semua keyakinan yang dianggap benar oleh setiap orang, dan kemudian mampu mengambil sari kebenaran tersebut. Dia telah mendapatkan PANDANGAN TERANG… VIPASSANA BHAVANA.

Inilah tahap IQRA sang Muhammad SAW, atau saat nabi Budha mendapatkan Pencerahan di bawah Pohon Bodhi. Mereka ditemui Ruhul Quddus, Malaikat Jibril. Gerak batin kita padu, serasi dan selaras dengan gerak batin-Nya. Mampu membaca keinginan Tuhan dalam hidupnya setiap hari. Batin kita tidak hanya mengingat-Nya dalam setiap tarikan/hembusan nafas dan detak nadi. Namun juga batin kita berkomunikasi intensif berbicara, berbincang-bincang, berdiskusi dengan batin-Nya. Seperti orang berkasih-kasihan. Keduanya saling menakar, mempertimbangkan dan menilai masing-masing.

III.

Tahap selanjutnya perjalanan spiritual yang lebih tinggi lagi adalah meditasi ke semua titik. Mengarahkan konsentrasi indera, batin dalam perbuatan nyata. Tapa ngrame. Beramal sosial. Menyempurnakan penciptaan Tuhan. Memayu hayuning bawono untuk Memayu Hayuningrat. Pada tahap ini, semua sudah terang benderang di depan semua inderanya, di dalam batinnya. Ibadah sosial ini dilakukan tanpa pamrih apa-apa, kecuali netepi titahing Gusti. Apa saja titah gusti pada kawolo/hamba akan dilaksanakan tanpa malas. Bila tidak dilaksanakan, dia akan terkena hukuman. Pengajaran Tuhan disampaikan secara langsung tanpa utusan gaib lagi. Ini tahap saat Nabi berjuang untuk memberi kabar Tuhan, berdakwah terang-terangan ke segenap sedulur papat/semua arah penjuru bumi. Menyebarkan kasih sayang-Nya. Tuhan mewartakan apa saja, sang hamba berkewajiban melanjutkan sabda-Nya.

Dia sudah berderajat para nabi dengan pencapaian ruhani yang sangat tinggi. Namun dia sadar tetap manusia biasa yang masih punya jasad. Kesadaran bahwa kita tetap manusia harus dimiliki. Syariat agama tidak boleh ditinggalkan. Semua nabi telah mencapai derajat ketiga ini. Dia sudah ada di langit ketujuh, langit diri pribadi tertinggi…

IV.

Tahap selanjutnya meditasi adalah mengarahkan diri ke “dalam” lagi. Manusia sudah tinggal aku sejati/ruhnya saja. Ngracut, mencair dan menguap bersama Gusti. Ia sudah mukso. Menjadi cahaya bersama-Nya. Hidupnya abadi. Tidak mengenal kematian. Kematian sudah bisa ditentukan kapan dan dimana. Manusia bisa melihat apa yang akan terjadi. Rentangan kejadian yang ada di alam semesta dilihatnya dengan diam. Semua gerakan batin yang menggelora ada di kekuasaannya. Sang diri pribadi mampu membaca buku “agenda” yang dibuat bersama antara ruh kawulo dengan Gustinya lagi.

Bila selama ini dia hanya bisa meraba-raba, sekarang dia sudah dengan sangat gamblang membaca agenda tersebut. Komunikasi dengan Gusti sudah tidak ada. Kenapa? Bukankah komunikasi butuh dua kehendak yang berbeda? Sementara di tahap akhir ini, dua kehendak itu sudah menjadi satu kehendak saja. Pada tahap ini, Kawulo sudah manunggal/jumbuh dengan Gustinya. Manunggal apanya? Semuanya. Ya iradatnya, ya sifat-sifat-Nya, ya asma-Nya, ya af’Alnya/perbuatannya.

Dia adalah Sumber dari Segala Sumber Cahaya Kebenaran itu sendiri. Apapun yang diinginkannya, adalah Kun Fayakun. Dia mengalami suwung… fana…..dalam kesatuan-Nya…. inilah hakikat takwa: yaitu “benar-benar” menjadi Gusti Allah… Ini hanya dicapai oleh pribadi yang telah tersinari oleh Nur Muhammad, diri pribadi yang memancarkan nilai-nilai terpuji. Sudah tidak ada langit lagi yang harus didaki, bahkan langit dan bumi sudah manunggal dalam satu titik lagi.

MAKRIFAT

MAKRIFAT, HAKEKAT, TARIKAT, SYARIAT

Pemahaman yang beredar dalam khasanah sufistik, tasawuf atau mistik Islam bahwa perjalanan spiritual itu dimulai dari menjalankan syariat, memasuki jalan suluk tarekat dengan berdzikir, kemudian berolah pikir di aras hakekat, hingga berujung pada mengenal Tuhan setelah bermakrifat/ bertemu dengan-Nya.

Mohon maaf bila pemahaman tersebut perlu didekonstruksi dan didiskusikan ulang. Sebab keyakinan kita atas hal itu bisa jadi salah.

Menurut saya, proses bahwa perjalanan spiritual itu justeru tidak dimulai dari syari’at, tarekat, hakikat, hingga ma’rifat. Namun lihatlah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, teladan umat muslim justeru yang terjadi adalah kebalikannya:

Perjalanan spiritual justeru dimulai dari MA’RIFAT, TAREKAT, HAKIKAT dan akhirnya sampai pada SYARIAT.

MAKRIFAT adalah bertemu dan mencairnya kebenaran yang hakiki: yang disimbolkan saat Muhammad SAW bertemu Jibril, HAKIKAT saat dia mencoba untuk merenungkan berbagai perintah untuk IQRA, TAREKAT saat Muhammad SAW berjuang untuk menegakkan jalanNya dan SYARIAT adalah saat Muhammad SAW mendapat perintah untuk sholat saat Isra Mikraj yang merupakan puncak pendakian tertinggi yang harus dilaksanakan oleh umat muslim.

Itulah sebabnya, SYARIAT SHOLAT ADALAH PUNCAK PENDAKIAN SPIRITUAL yang terkadang justeru dilalaikan oleh kaum sufi dan para ahli spiritual. Padahal, Nabi MUHAMMAD SAW memberi tuntunan tidak seperti itu.

SHOLAT adalah komunikasi tertinggi serta pertemuan antara TUHAN dan MANUSIA. Sholat juga merupakan PERTEMUAN TITIK MODULASI DIMENSI YANG LAHIR DAN BATIN ANTARA TUHAN YANG MAHA LAHIR DAN MAHA BATIN dengan manusia yang merupakan makhluk satu-satunya yang memiliki SDM untuk mempertemukan titik temu dari dua dimensi tersebut dalam dirinya.

TITIK TEMU itu terletak pada KESADARAN. NAH, Bagaimana penjelasan tentang PERJUMPAAN TUHAN dengan MANUSIA? Monggo KITA sholat dengan khusyuk. CARI TITIK PALING HENING dan NIKMATILAH WAJAH TUHAN DAN BERMESRAANLAH DENGAN DIA, YANG MAHA TERKASIH.

MA’RIFAT, HAKIKAT, TAREKAT DIAKSES dengan alat epistemologis PANCAINDERA AKAL-RASA-BUDI dan akhirnya PENDAKIAN SPIRITUAL sampai pada SYARIAT, yaitu DIAKSES DENGAN SEMUA ALAT EPISTEMOLOGIS MANUSIA: PANCAINDERA, AKAL, RASA, BUDI dan ini yang special yaitu HIDAYAH WAHYU untuk kemudian dimanifestasikan dalam PERILAKU…

Itu sebabnya, bila Sholatnya bagus maka PERILAKU PASTI BAIK, SEHINGGA DARI PERILAKULAH KITA BISA MENAKAR APAKAH SESEORANG ITU SUDAH BERMANUNGGAL DENGAN TUHAN. PERILAKU adalah ibadah yang menjadi SYAHADAT manusia yang sudah mencapai taraf INSAN KAMIL, yaitu bermanunggalnya makrokosmos dengan mikrokosmos, jagad alit dan jagad gede, manunggaling kawulo kelawan gusti.

Sampun.Pareng-paren ki sanak..,. ngapunten mbok bilih wonten ingkang lepat. Nuwun gunging ombak samudra pangaksami. Monggo paring pencerahan bersama.

KENAPA TUHAN SATU

JATI DIRI

Apa yang akan terjadi bila manusia sudah sesuai dengan iradat atau kehendak-Nya? Ya, dia akan menjadi insan sempurna atau disebut Insan Kamil. Lantas apa dan bagaimana potret manusia ideal yang tersebut? Apakah sesuai dengan jati dirinya sendiri atau diri yang mencontoh para Nabi/Rasul sehingga jati diri kita hilang?
Artikel ini dimaksudkan sebagai upaya (meski kecil) untuk memperteguh keimanan kita, bahwa sesungguhnya keyakinan kita adanya manusia sempurna yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa itu bukanlah utopia atau angan-angan kosong. Sehingga upaya kita untuk berproses dan bermetamorfosis untuk menjadi insan kamil sebagai tujuan hidup itu tidaklah sia-sia belaka.
Kami ingin agar Pembaca yang budiman mengkritik dan memberi sanggahan atas alur berpikir saya yang dinilai salah, sehingga tidak terjadi dominasi alur berpikir. Sebab saya yakin, rumusan kebenaran bersama yang dipikirkan oleh banyak kepala derajatnya akan lebih sempurna dan lebih lengkap dibandingkan dengan berpikir sendiri atau dengan hanya sekelompok kecil keyakinan yang tidak disanggah melalui argumentasiyang matang dan masuk akal.
Ada sebuah tesis bahwa sebuah upaya perjalanan spiritual pasti memiliki titik henti. Titik henti itu merupakan tujuan proses perjalanan spiritual yaitu menjadi manusia sempurna/insan kamil di dunia ini. Tanpa adanya insan kamil atau manusia sempurna di dunia ini berarti proses perjalanan spiritual kita bisa dikatakan tidak masuk akal. Ibarat kita sedang mencari dan ingin menjadi sosok idola sementara sosok idola itu tidak ada dalam kenyataan. Bukankah hal ini merupakan kekonyolan?
Bila kita yakin bahwa tujuan pencarian kita adalah menjadi manusia sempurna, insan kamil, atau manusia yang sudah bertakwa, atau manusia yang sudah mampu manunggal dengan kehendak dan iradatnya itu ada. Lantas seperti apa adanya itu? Sifat-sifatnya? Dan siapa contoh manusia sempurna itu?
Ya benar, bahwa para nabi/rasul yang tersebut dalam kitab suci adalah manusia yang sempurna. Sehingga kita diminta untuk mencontoh/mensuritauladani sepak terjang mereka di dunia. Lantas pertanyaan kita, bagaimana dengan perilaku mereka bisa diterapkan oleh kita yang sangat tidak ideal ini?
Nanti bila kita sudah ditiadakan di dunia ini, atau meninggal dunia dan ditanya oleh malaikat; maka pertanyaannya mungkin sebagai berikut: Apakah kamu sudah berperan sebagai Karto, Karso, Karno yang ideal sesuai dengan jati dirimu sendiri? Pasti kita tidak ditanya, apakah kamu (Karto, Karso, dan Karno) sudah berperilaku dan bersifat seperti Para Nabi/Rasul yang hidup ratusan atau ribuan tahun lalu?
Inilah yang perlu digarisbawahi, bahwa kita diharapkan untuk menjadi DIRI SENDIRI dengan sifat, watak, karakter yang asli diri kita. Diri yang mampu mengolah seluruh potensi kemanusiaan kita yang paling baik, berperilaku yang terbaik dan berkarya sesuai dengan apa yang sudah kita miliki sekarang ini. Tidak mungkin kita berkarya dengan potensi-potensi yang bukan diri kita. Misalnya, kita diharapkan berkarya menciptakan pesawat terbang bila kita tidak memiliki potensi keilmuan yang mendukung terciptanya pesawat terbang.
Jadi manusia yang sempurna dan ideal sesungguhnya adalah manusia sesuai dengan JATI DIRI Karto, Karso, Karno, …. atau sesuai dengan titah Anda diciptakan-Nya. Sehingga sangat masuk akal bila kita bertanya dalam rangka untuk menjadi manusia sempurna sebagai berikut: Apakah saya sudah menjadi sebagaimana yang Tuhan kehendaki, apakah kaki saya sudah melangkah sesuai dengan karep atau kehendak sang Pencipta kaki? Apakah akal sudah untuk berpikir sesuai dengan Sang Pemrakarsa? Apakah tangan saya sudah memegang dan menyentuh sebagaimana yang dikehendaki Sang Maha Penyentuh?
Ini berarti yang dikehendaki Tuhan adalah: Jadilah diri Anda sendiri, sebab inilah yang dicontohkan oleh para Rasul dan Nabi kita dulu. Sebagaimana Muhammad SAW juga tidak mencontoh Nuh, Isa, Musa, Ibrahim maupun Adam. Isa juga tidak mencontoh Ibrahim, Ibrahim juga tidak mencontoh Nuh, dan seterusnya… Mereka tidak mencontoh siapa-siapa, dan mereka yakin bahwa Tuhan sudah menciptakan diri mereka sendiri sangat sempurna. Tinggal bagaimana SESEORANG ITU MEMUNCULKAN POTENSI KEMANUSIAAN YANG PALING SEMPURNA YANG ADA PADA DIRINYA.
Keyakinan ini sangat ideal, saya kira, karena lebih menghargai prinsip keadilan Tuhan. Karena Tuhan Maha Adil pula dia tidak membeda-bedakan manusia kecuali ketakwaannya, kecuali perilakunya, kecuali amal perbuatannya. Amal perbuatan juga pasti disesuaikan dengan potensi kemanusiaan yang sudah diberikan Tuhan kepada kita.
Tidak mungkin saya stau mungkin Anda dituntut untuk memimpin sebuah umat misalnya, sebab kita dilahirkan dengan sifat-sifat introvet, tidak mampu berbicara di depan umum, tidak memiliki sumber daya yang mendukung untuk diyakini oleh banyak orang. Bukankah sekarang ini jamannya bahwa pemimpin umat adalah mereka yang memiliki segudang kelebihan? Wajar para Nabi dan Rasul dipercaya oleh banyak orang sebab mereka dibekali dengan mukjizat-mukjizat untuk meneguhkan kepercayaan orang terhadap eksistensi kenabian/kerasulan. Para nabi dan rasul itu juga memiliki tanda-tanda kenabian/kerasulan yang bisa dilihat secara obyektif dan meyakinkan.
Sementara kita?
Jangankan mukjizat, wahyu dan Jibril juga tidak pernah dan mungkin pula hingga akhir hayat tidak mungkin akan mendatangi kita… Duh, gimana ini?
Jangan putus asa dari rahmat dan hidayah Allah SWT. Sebab dia telah memberikan kita kemudahan-kemudahan yang luar biasa banyak. Semua telah diberikan gratis pada kita. Boleh dikatakan kita ini manusia gratisan. Tubuh gratis, nyawa gratis, otak, batin, udara gratis pula… Nah, kenapa pula kita masih mengeluh bahwa kita manusia yang tidak sempurna dan gudang kebodohan?
Yakinlah sekarang, bahwa sesungguhnya kita adalah manusia yang serba sempurna. Manusia sempurna bukan manusia yang memiliki mobil, rumah, pekarangan, sawah, gunung, lautan, kaal pesiar, hotel, penjara, kekuasaan, uang beratus juta, tabungan, kartu kredit, isteri cantik, dan sebagainya… Manusia sempurna adalah manusia yang menyadari kesempurnaan wujudnya sebagai pemberian lengkap dari Tuhan untuk disyukuri sekaligus dimanfaatkan untuk tujuan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Berbuat sebaik-baiknya sesuai dengan JATI DIRI-nya masing-masing.
Oleh sebab itu, manusia sempurna bisa datang mana saja… Bisa datang dari Gang Buntu di ujung RT becek sana, bisa datang orang yang tinggal di sepetak tanah di tengah area persampahan, bisa datang dari bawah kolong jembatan yang berdindingkan kardus dan tidur dengan kertas koran, namun bisa juga datang dari sebuah kamar hotel mewah berbintang tujuh.
Ada sebuah kata yang bijaksana yang dilontarkan oleh Socrates dan di dalam kitab Suci juga ada: KENALILAH DIRIMU SENDIRI, MAKA KAU AKAN MENGENAL TUHANMU. Ya, kita tidak diminta mengenal Para Nabi/Rasul/Para Sahabat/Para Ulama/Para Pemimpin Sekte dan seterusnya untuk mengenal Tuhan. Tapi justeru mengenal DIRI SENDIRI YANG SEJATI. Ada apa sesungguhnya dengan diri ini? Apakah kita sudah mengenal benar-benar siapa diri kita? Jangan-jangan apa yang telah kita anggap diri sendiri selama ini ternyata belum diri sejati kita? Pantaslah bila akhirnya kita belum mengenal Tuhan… Lha wong mengenal diri sendiri saja belum, gitu kok mau mengenal Tuhan…
Parahnya, bila kita tidak mengenal diri sendiri, maka kita tidak akan mengenal Tuhan. Namun kita akan mengenal antitesis dari Tuhan yaitu setan. Kalau ini terjadi, pasti yang kita kenal bukan diri sendiri tapi diri orang lain atau malah diri setan itu sendiri. Ya, ampun deh…
Monggo kita diskusikan bersama, jangan sampai kita terjebak dalam anggapan bahwa diri kita sudah menjadi diri sejati kita. Bila kita yakin bahwa diri kita sudah menjadi diri sejati kita, ini berarti diri kita sudah dibisiki oleh setan. Diri sejati lah yang hanya bisa mengenal Tuhan Yang Sejati yang digambarkan oleh para ahli kebatinan sebagai TAN KENA KINAYA NGAPA… Yang tidak bisa digambar oleh pikiran dan kata-kata. Bila Anda kebetulan pada suatu ketika merasa sudah mengenali Tuhan, yakinlah itu bukan Tuhan yang sesungguhnya…sebab Dia tidak bisa digambar oleh otak, qalbu dan mulut Anda.
Ini sedikit tips sholat khusyuk: Jangan menggambar Tuhan dengan kekuatan pikiran. Seberapa kuat pikiran Anda menggambar Tuhan dalam angan-angan? Menggambar benda yang ada di depan mata saja saya yakin tidak sempurna kok, mana mungkin mampu menggambarkan Tuhan dengan kekuatan fokus pikiran dan fokus batin kita.. Bukankah Tuhan juga tidak berwujud sebagaimana yang ada dalam gudang data/memori di otak? TUHAN MEMILIKI SIFAT BERBEDA DENGAN SEMUA HAL YANG PERNAH DIKETAHUI DAN DIANGANKAN OLEH MANUSIA. Sehingga sholat khusyuk justeru tidak perlu konsentrasi macam-macam. Pikiran dan batin kita hanya sumarah, pasrah total, sumeleh saja.

HAKIKAT RUH PENDAMPING

+ Ibumu meninggal ya?
-Ya. Sudah dua bulan lalu ibu saya meninggal. Kamu kok tahu?

+Apakah ibumu orangnya kecil pendek, suka mengenakan jarik dan masih sehat meski usianya 89 tahun?
-Kamu kok bisa tahu siapa yang memberitahumu? Kau kan nggak pernah ke desaku bertemu ibuku?

+ …….(diam sedang melihat ruh seorang perempuan tua di samping tersebut)

-ya saya anak tertua dan paling dekat dengan ibu saya
+Berarti yang memberi tahu saya tadi adalah ibumu yang sekarang jadi ruh pendampingmu.

-Oh, gitu ya? Saya masih mencintai ibu
+Itulah yang membuat ibumu juga betah untuk mendampingimu

-Setiap ibadah, saya usahakan selalu berdoa agar ibu dan bapak almarhum mendapatkan perlindugan Tuhan.
+Itulah keharusan agar kamu juga selalu diberi petuah dan didoakan olehnya.

-Matur nuwun

Bagi sebagian kalangan yang mendalami kebatinan, kemampuan untuk melihat ruh sudah bukan hal yang aneh. Termasuk juga kemampuan untuk bersahabat akrab dan saling membantu. Pada diri manusia yang paling inti, ada ruh. Dialah diri sejati yang menjadi guru sejati dari akal dan tubuh fisik kita. Kalau kita biasa mengatakan “dengarkan hati nuranimu” itu artinya dengarkanlah suara ruh(ani) mu.

Hakikat keberadaan ruh sebenarnya juga bisa dinalar dengan ilmu pengetahuan. Sejak lama, para ilmuwan mengamati bahwa obyek-obyek makro di angkasa atau disebut bintang adalah satu pusat dengan sekumpulan planet. Planet itu juga dikelilingi lagi satelit-satelit. Sebagaimana sistem tata surya, matahari dikelilingi 9 planet. Begitu pula dengan obyek-obyek ukuran mikro seperti atom. Di satu butir atom, terdapat pula nukleus yang dikelilingi oleh eketron-elektron yang bergerak.

Sudah lama diketahui pula oleh kalangan ahli kebatinan Barat dan Timur termasuk para Yogi, bahwa ruh manusia adalah ruh utama yang dikelilingi oleh ruh-ruh lain yang disebut dengan ruh pendamping (di jawa konsep ruh pendamping itu disebut: sedulur papat, sementara di Arab merujuk pada malaikat.atau mungkin disebut dengan jin pendamping?). Jadi setiap sistem ruh pada satu diri manusia terdiri dari lima ruh.

Dari lima ruh itu, setidaknya ada empat kemungkinan kombinasi yang terjadi. Pertama, ruh utama adalah pria dan keempat ruh pendamping adalah pria. Kedua, ruh utama adalah wanita dan keempat ruh pendamping adalah wanita.Ketiga, ruh utama adalah pria dan ruh pendampingnya adalah 2 pria 2 wanita. Keempat, ruh utama adalah wanita dan ruh pendampingnya adalah 1 wanita dan 3 pria.

Terdapat kemungkinan adanya lebih dari satu atau kurang dari 4 ruh pendamping. Para ruh pendamping ini bisa saja berganti. Misalnya seseorang mungkin tadinya mempunyai ruh pendamping pria tetapi setelah beberapa lama, ruh pendamping pria ini pergi dan digantikan oleh seorang ruh wanita. Perubahan seperti ini akan mengakibatkan perubahan emosi, mental dan kondisi spiritual ruh utama yang bersangkutan.

Ahli-ahli kebatinan percaya bahwa baik ruh utama maupun ruh pendamping memiliki kehidupan yang otonom/mandiri/independen. Ruh sama seperti matahari dan bulan keduanya terpisah secara otonom dalam garis edar hidupnya masing-masing. Perbedaan antara ruh utama dan ruh pendamping adalah bahwa tingkat kemampuannya. Ruh utama akan mempengaruhi ruh-ruh pendampingnya, sedangkan tingkat kemampuan ruh pendamping hanya akan mempengaruhi diri mereka sendiri dan sangat sedikit untuk mampu mempengaruhi ruh utama.

Secara umum ruh pendamping adalah ruh yang mempunyai hubungan pribadi yang sangat erat dengan ruh utama. Bila bukan anggota keluarganya, juga para leluhurnya, atau bahkan teman-teman dekatnya. Ruh-ruh pendamping adalah ruh-ruh yang mengawasi ruh utama. Para ahli kebatinan yang melakukan penyelidikan mengenai karakter dan nasib seseorang berdasarkan pengamatan mereka tentang ruh-ruh pendmping orang yang bersangkutan. Semakin tinggi kemampuan ruh pendamping, semakin tinggi pula kemampuan ruh utama. Semakin rendah dan lemah kemampuan ruh pendamping maka semakin lemah pula kemampuan ruh utama untuk mencapai hidup yang lurus dan sukses.

Bila dikatakan bahwa ruh utama sebagai nukleus dari atom dan ruh pendamping sebagai elektron-elektron, maka perubahan jumlah elektron kan mengubah secara dramatis sifat atom itu sendiri. Hukum kegaiban sesungguhnya sama dengan prinsip fisika yaitu bergerak menuruti aturan yang sah dan berlaku sebagai derivat dari hukum Tuhan.

Banyak orang yang tidak menyadari adanya ruh pendamping mereka. Bahkan yangtragis, banyak pula yang menolak keberadaan ruh-ruh pendamping mereka sendiri. Mereka hanya memahami manusia hanyalah materi fisiknya dan tidak percaya adanya ruh. Padahal di dalam agama apapun, pasti ada konsep tentang ruh ini. Kalau kita mempelajari secara metafisis, berbagai tradisi yang sudah dijalani oleh para nenek moyang dulu sebenarnya sangat memperhatikan keberadaan ruh pendamping ini. Berbagai tradisi slametan, misalnya, selain berdimensi sosial (horizontal) namun juga untuk menghormati dan rasa berterima kasih kepada para ruh pendamping yang demikian setia untuk menemani kita selama hidup.

Namun bila saran ruh pendamping (para leluhur kita dulu) ini diabaikan bahkan cenderung ditolak dan bahkan kepercayaan adanya mereka dituduh sebagai bid’ah/takhayul maka mereka akan pergi dan diganti dengan ruh-ruh pendamping yang lebih kasar bahkan bisa jadi ruh pendamping yang jahat. Nah, sekarang mana yang kita pilih? Berteman dengan ruh pedamping kita dengan cara menghormati dan menyayangi mereka atau sebaliknya, memusuhi dan mengusir mereka dari hidup kita? Semua berpulang pada keyakinan masing-masing.

HAKIKAT KIAMAT

“Pa, apa benar kiamat terjadi tahun 2012?”
Pertanyaan ini begitu mengusik saya. Betapa tidak, yang melontarkan pertanyaan adalah anak saya sendiri yang masih berusia 8 tahun. Saat saya tanya informasi itu datang dari mana, anak saya menjawab dari teman-teman sekolah.
Anak usia sekolah mendapatkan pengetahuan dari buku, dari “katanya si peramal A, B, C” atau dari “buku A, B, C”. Orang Jawa mengatakan JARE. Pengetahuan yang berasal dari TEMBUNG JARE ini kemudian terus berkembang seiring dengan perkembangan usia anak.
Kini, saat kita sudah memasuki fase berada pada lingkaran puncak kedewasaan mental harusnya pengetahuan yang berasal dari JARE itu sudah tidak boleh diugemi lagi. Harusnya seseorang bisa mengalami bagaimana beragama, bagaimana beriman, bagaimana berperilaku. Apek implementasi dari JARE itulah yang harusnya didahulukan.
Bila di kitab suci dikatakan kita perlu yakin bahwa hari akhir/kiamat itu ada. Maka pengetahuan tentang keyakinan itu sudah harus bisa dibuktikan. Jangan mengaku beriman kalau belum membuktikan. Misalnya kita diberitahu bahwa Tuhan itu ada, namun apabila kita belum menemukan ada-Nya Tuhan maka iman kita tingkatannya masih sangat rendah. Ibarat kita percaya bahwa api itu panas namun apabila belum pernah keslomot merasakan panasnya api maka kita belum bisa dikatakan beriman secara sempurna.
Kita harus berikhsan, kita perlu makrifat, kita perlu mengalami dan menyaksikan sendiri dengan akal budi, jiwa, batin, rasa. Amat sangat disayangkan bila umur kita dihabiskan hanya untuk mengumpulkan pengetahuan namun tidak mampu mengolahnya dan mengalaminya. Seperti kita bisa mengumpulkan banyak uang namun tidak bisa menikmati uang tersebut untuk kebahagiaan. Buat apa? Mending memiliki sedikit uang, mending memiliki sedikit pengetahuan namun bisa memberikan kemanfaatan bagi hidup kita yang sejati.
Tuhan Maha Adil dan Bijaksana. Masing-masing orang diberi rezeki dengan ukuran yang berbeda-beda. Namun setiap orang diberi kesempatan yang sama untuk menemukan cahaya kebenaran yang akan menjadi pencerahan di gelapnya hidup di dunia materi apus-apus (tipuan) ini.
Pemahaman terhadap kiamat juga harusnya tidak sekedar diyakini karena kitab suci mengatakan seperti itu. Kiamat juga harusnya juga bisa dialami oleh masing individu sehingga kita benar-benar yakin. Tidak hanya tembung JARE. Dan apa hakikat kiamat tersebut?
Untuk sementara tinggalkan dulu dan masukkan dulu pemahaman dan pengetahuan lama yang tentang kiamat yang kita dapatkan dari guru-guru agama SD, dari buku-buku dan informasi-informasi dari para agamawan. Marilah kita sejenak menjadi petualang spiritual dengan menelusuri dengan pengalaman mendapatkan kiamat yang sudah kita alami.
Kita mulai dengan pertanyaan apa itu kiamat? Menurut saya, kiamat adalah berkurangnya unsur penciptaan yang berproses secara evolutif. Seperti saat dulu kita ada untuk pertama kali di dalam KUN awal: IDE atau RENCANA TUHAN. Saat kita berada di alam ide itu mengalami kesempurnaan maka kita kemudian mengalami kiamat sedikit demi sedikit hingga kemudian ada di rahim ibu. Dan saat janin sudah mengalami kesempurnaan maka kita akhirnya mengalami kiamat hingga kemudian dilahirkan di dunia.
Dunia kita berkembang mengiringi kesempurnaan kesadaran ruh(ani) kita. Saat ruhani sudah mengalami puncak kesempurnaan, lama-lama kita akan mengalami kiamat berupa muksa yaitu transformasi ruh menuju alam ruhani sejati (alam kelanggengan). Ini kiamat diri pribadi. Bagaimana dengan kiamatnya dunia dan seisinya?
Saya beranggapan bahwa dunia ini sesungguhnya tidak ada bila saya tidak ada. Saya berpikir/ merasa (tentang adanya dunia) maka saya ada (dan dunia pun ada). Sehingga penghubung antara adanya saya dengan adanya dunia adalah kesadaran tentang keberadaan. Kesadaran sebagai jembatan penghubung inilah yang dalam dunia kebatinan disebut rasa pangrasa.
Sekarang soalnya adalah kesadaran/rasa pangrasa. Apakah kita masih menganggap bahwa kita merasa ada sehingga kemudian dunia pun ada? Sebaliknya, apakah kita sudah mengakhiri dengan kesadaran bahwa kita sejatinya tidak ada sehingga dunia ini tidak ada?
Dalam ajaran sangkan paran makrifat, kita diberitahu bahwa sejatinya kita ini tidak ada. Hanya Tuhan/Gusti/Ingsun yang ada. Sehingga dunia pun sejatinya tidak ada. Inilah tingkat pengetahuan paling hakiki, paling inti, paling substansial yang ditemukan oleh manusia yang sudah mencapai tahap Wakil Tuhan.
Diri yang sudah tidak menyadari keberadaannya, diri yang sudah tidak mengakui dia berada, diri yang sudah tidak merasa memiliki rasa punya (ora duwe rasa duwe), hanya DIRI-NYA yang ada sehingga proses kemudian berjalan terus, kiamat pun akhirnya terjadi lagi setelah datangnya kesempurnaan.
Inilah hakikat kiamat. Sehingga saya berani bertaruh dengan semua paranormal hebat sedunia meskipun mereka meramalkan bahwa kiamat akan terjadi pada tahun 2012, namun saya yakin tidak akan terjadi kiamat pada tahun itu. Sebab apakah masing-masing dari kita sudah mengalami masa kesempurnaan kesadaran pribadi?
Selama masih ada bayi yang dilahirkan di dunia ini, selama itu pula Tuhan memberi kesempatan mereka untuk mengalami masa kesempurnaan diri. Tidak mungkin ujug-ujug datang kiamat sebelum dia memberi pengajaran pada setiap pribadi hingga mencapai sempurna. Nah, ada sedikit bocoran: tanda-tanda kiamat adalah tidak ada bayi yang lahir. Kapan itu? Tidak pernah ada bukan saat manusia tidak melahirkan bayi?
Maka sejatinya kiamat sebagaimana yang dipahami seperti bom meledak itu untuk sementara tidak perlu dikhawatirkan kedatangannya. Kecuali kalau kita sudah sempurna, maka bersiap-siaplah mengalami kiamat.
Ya, hidup sebagaimana yang kita alami sekarang ini sesungguhnya adalah sebuah panggung game maya di layar komputer. Hidup yang riil, kongkret, nyata adalah berada di luar komputer itu terus meruang-mewaktu bersama ruang-waktu-kehendak INGSUN YANG MAHA SEMPURNA-HIDUP KEKAL ABADI. Di situlah makna bahwa saat pribadi (kawulo) sudah bisa manunggal dengan Tuhan (Gusti), maka di situlah sejatinya kiamat itu tidak pernah ada. Karena kesempurnaan Dzat, Sifat dan Perbuatan-Nya tidak akan menyusut dan memudar.

HAKIKAT KHODAM

Pertanyaan yang sering diajukan pembaca ini sepertinya sederhana. Namun jawabannya tidak sederhana dan saya merasa cukup rumit untuk menjelaskannya dengan bahasa yang mudah. Sebab akan menjurus pada hakikat dunia gaib yang susah dipahami. Namun akan coba disederhanakan agar bisa diterima oleh kalangan awam. Kitab suci menjelaskan bahwa pengetahuan manusia atas DUNIA GAIB itu sangat sedikit dan yang mampu mengenalinya hanya KESADARAN RUH (DIRI SEJATI/AKU SEJATI) kita. Namun meski pengetahuan tentang ruh ini sangat sedikit tidak berarti manusia tidak boleh tahu apa-apa tentang seluk beluk dunia gaib ini.

Alat apa pada diri manusia yang mampu mengenal dunia gaib? Apakah akal, mata, telinga, kulit, lidah? Tidak. Jawabnya adalah RUH. Kenapa manusia cuma diberi sedikit pengetahuan oleh Tuhan tentang Ruh? Itu karena Tuhan tidak ingin menyusahkan manusia. Tuhan Maha Tahu bahwa manusia biasanya hanya belajar dengan menggunakan akal saja. Padahal, akal/rasio tidak akan mampu membeber sesuatu yang gaib. Kecuali merekayasa dan mengkonstruksikan dugaan-dugaan itu ke dalam sebuah teori.

Kecenderungan peradaban saat ini yang dibangun dengan cara berpikir Barat memang akhirnya membuat perkembangan ruhani menjadi mandeg dan mangkrak. Akhirnya, orang meninggalkan aspek ruhani yang metafisis. Diganti dengan aspek gaya hidup pragmatik dan hedonistik. Maka peradaban saat ini disebut juga dengan peradaban post metafisik. Apa yang ada diluar peta pemahaman akal ditolak mentah-mentah, padahal bukankah akal itu hakekatnya adalah metafisik juga?

Coba kita pikirkan hal sederhana sebagai berikut: Bagaimana jari tangan kita bergerak? Itu karena perintah dari pikiran untuk mengerakkan jari tangan. Bagaimana perintah pikiran bisa dibaca dan diterjemahkan oleh jari tangan kemudian dituruti kehendak pikiran itu? Dalam khasanah Ilmu Neurologi kira diberitahu bahwa perintah dari otak kemudian dibawa oleh neurotrasmitter yakni semacam energi biolistrik yang mampu menggerakkan syaraf-syaraf jari tangan. Tapi tetap perintah otak itu sumbernya dari mana? Nah, kita akhirnya paham bahwa yang fisik itu dasarnya juga metafisik.

Seperti juga seutas kabel yang dialiri energi listrik. Energi listrik tentu saja tidak bisa dilihat mata dan energi listrik bisa diketahui keberadaannya bila dipegang dan kita akhirnya mengalami “kesetrum”. Pada kesempatan kali ini, ada baiknya kita tanggalkan dulu untuk sementara akal kita. Sebab yang akan kita bahas adalah RUH (DIRI SEJATI/AKU SEJATI) YANG MERUPAKAN BAGIAN PALING INTI SUBSTANSI MANUSIA. Karena ruh itu tidak bisa dilihat, maka kita perlu akan menggunakan pengalaman “kesetrum” tersebut.

Ruh akan nampak jelas saat seseorang itu meninggal. Apa yang terjadi saat orang dinyatakan denyut nadinya tidak lagi bergerak? Maka, orang itu oleh dokter dinyatakan telah MATI. Apa yang terjadi saat jasad fisik kita mati? Yaitu ruh akan keluar dari fisik dan dia ingat semua perbuatan yang pernah dilakukan semasa hidup. Perbuatan yang pernah dilakukan itu tampak seperti album foto panorama yang berjejer bergerak melewati kalbunya. Atau bahkan tampak seperti sebuah film otobiografi tentang diri sendiri. Ingatan yang jadi tajam itu diperlukan karena rekaman film tindakan semasa hidup itu memang ditunggu oleh ruhnya DI ALAM ASTRAL yaitu alam perpindahan dari alam bumi/jagad fisik sekarang ini ke ALAM ALUS–ALAM KELANGGENGAN– ALAM BARZAKH. Untuk mempermudah pemahaman, maka alam berdimensi bumi ini kita bagi menjadi tiga: ALAM FISIK atau ALAM BUMI, ALAM ASTRAL: alam antara fisik dan alam halus sifatnya sudah gaib. ALAM HALUS: ALAM GAIB di bumi dibagi menjadi ALAM BAIK dan ALAM BURUK

ALAM ASTRAL adalah tempat singgah badan halus manusia sudah meninggal namun masih melekat pada ruhnya. Alam astral juga merupakan alam HUKUM PANTULAN berlaku. Yaitu alam bentukan dari perbuatan dan pikiran manusia yang memantul kemudian membentuk energi. SAAT SESEORANG MENJALANI LAKU UNTUK MENDAPATKAN AJIAN-AJIAN, MEMBACA MANTRA ATAU MENGISI KEHENDAKNYA PADA BENDA DALAM BENTUK SUSUK, JIMAT ATAU TOSAN AJI (BENDA-BENDA BERTUAH) MAKA SESUNGGUHNYA ENERGI PIKIRANNYA TERPUSAT DAN MEMBENTUK “BENDA/MATERI” DI ALAM ASTRAL. INILAH YANG DIMAKSUD DENGAN KHODAM!!!! Jadi Khodam bukan entitas makhluk halus tersendiri. Namun makhluk halus yang dibentuk oleh kehendak kita.

DI ALAM ASTRAL INI PULA TEMPAT KEBERADAAN MAKHLUK HALUS SEHINGGA SAAT SESEORANG BERNEGOSIASI/BERDISKUSI DENGAN MAKHLUK HALUS MAKA YANG TERJADI ADALAH SINKRONISASI KEHENDAK ANTARA MANUSIA DAN MAKHLUK HALUS DI ALAM ASTRAL.

Alam astral ini sama persis seperti alam fisik. Itu karena alam astral ini adalah ALAM TIRUAN DARI ALAM FISIK. Seperti antara kita dengan bayangan kita di cermin. Sehingga apapun perbuatan kita, apakah itu baik atau buruk akan memantul di alam astral dan ada akibatnya cepat atau lambat. Setiap kegiatan dan kehendak yang kita pantulkan itu menghasilkan pantulan di alam astral bahkan hingga jagad halus. Bedanya, bila di alam fisik kita sekarang bisa merasakan panas karena cahaya matahari maka di alam astral cahaya matahari tidak memberikan panas pada kita. Di alam astral juga tidak ada pergantian siang dan malam.

Alam Gaib terbagi menjadi dua yaitu ALAM BAIK dan ALAM BURUK. Kedua alam ini masih ada di bumi. Di antara dua alam yang mengapit bumi dari atas dan dari bawah itu ada alam astral. Digambarkan dengan sederhana sebagai berikut:

ALAM GAIB BERDIMENSI DUNIA/BUMI
(1). ALAM GAIB BAIK. Berada di atas bumi. terdiri dari tujuh sap/tingkat dari bawah ke atas: 7 ANDRATASAMIRA, 6 KALASUTRA, 5 MAHARAUNNAWA, 4 RAUNAWA, 3 AMBARISHA, 2 MAHAKALA, 1 LOKANTARIKA

(2). ALAM ANTARA atau ALAM ASTRAL: alam pergantian dari alam fisik ke alam gaib. Alam ini dihuni oleh empat jenis makhluk halus namun jumlahnya tidak terhingga: keempat jenis itu adalah JIN API (Salamandala), JIN UDARA (Gandarwa), JIN AIR (Apsara) dan JIN TANAH (Yaksa).

(3). ALAM GAIB BURUK berada di dalam tanah/bumi. Alam ini terdiri dari atas ke bawah: 1 JAMBU, 2 KASHA, 3 PLAKSHA, 4 SHAMALIA, 5 KRAUNTSHA, 6 SHAKA, 7 PUSKHARA. Di alam GAIB BURUK, di tingkat 2,3,4 masih terasa cahaya matahari. Namun tingkat 5,6,7 selalu dalam gelap tanpa cahaya. Ini beda bila ruh manusia yang meninggal di alam BAIK. Di alam BAIK ini, semua lapisan mendapat cahaya penerangan. Ruh manusia mendapat tempat yang baik dan menyenangkan. Ini ruh manusia yang semasa hidupnya berbuat baik.

Ruh manusia saat berada di alam astral tergantung pada keikhlasannya untuk meninggalkan dunia. Bila dia ikhlas karena kemelekatan terhadap dunia ini sangat ringan, maka ruhnya akan naik ke alam BAIK. Sebaliknya, bila hasrat dan keinginan manusia terhadap dunia ini meluap-luap, kemelekatannya terhadap dunia begitu tinggi dan dia belum ikhlas meninggal dunia maka ruhnya akan sangat berat hingga masuk ke alam gaib alam BURUK.

ALAM GAIB BAIK, berada di langit. Langit dibagi ke dalam dua bagian utama yaitu langit luar dan langit dalam. Langit luar masih ada bentuknya (Rupa), sementara langit dalam tidak berbentuk (Arupa/ALAM SUWUNG). Langit yang masih ada bentuknya itu dihuni oleh para malaikat sementara langit tidak bebentuk itu dihuni oleh para Nabi, Utusan Tuhan dan juga manusia-manusia terpilih yang dikasihi Tuhan. Di langit berbentuk ini ada Ruh tertinggi yang mengatur yang alam semesta fisik dan metafisik. Sementara di langit yang tanpa bentuk ada juga ruh tertinggi yang mengendalikan semuanya.

ALAM GAIB SEJATI BERDIMENSI AKHIRAT
Ada lagi alam gaib setelah dimensi bumi habis. Yaitu selesainya pergelaran alam semesta fisik dan metafisik bumi dan diganti alam gaib berdimensi akhirat. Di alam gaib akhirat ini adalah pantulan dari alam gaib berdimensi bumi. Ada Surga/BAIK dan ada Neraka/BURUK juga. Ruh Manusia dihisab lagi kemudian dimasukkan ke dua tempat gaib terakhir yang abadi. Tidak ada lagi hukum sebab akibat/sunatullah.

ALAM GAIB AKHIRAT berada di kegaiban “langit.” Langit dibagi ke dalam dua bagian utama yaitu langit luar dan langit dalam. Langit luar masih ada bentuknya (Rupa), sementara langit dalam tidak berbentuk (Arupa, ALAM SUWUNG). Langit yang masih ada bentuknya itu dihuni oleh para malaikat sementara langit tidak bebentuk itu dihuni oleh para Nabi, Utusan Tuhan dan juga manusia-manusia terpilih yang dikasihi Tuhan. Di langit berbentuk ini ada Ruh tertinggi yang mengatur yang alam semesta fisik dan metafisik. Sementara di langit yang tanpa bentuk ada juga ruh tertinggi yang mengendalikan semuanya.

KESIMPULAN:
Dari penjelasan di atas, kita menjadi tahu bahwa di alam fisik/alam bumi sekarang ini tidak ada yang bisa lepas dari HUKUM SEBAB AKIBAT. Termasuk juga saat ruh kita berada di ALAM ASTRAL yang merupakan adalah tempat singgah badan halus manusia /ruh manusia. Di alam astral berlaku HUKUM PANTULAN. Saat seseorang menjalani laku untuk mendapatkan ajian-ajian, membaca mantra atau mengisi kehendaknya pada benda dalam bentuk susuk, jimat atau tosan aji (benda-benda bertuah) maka sesungguhnya energi pikirannya terpusat dan membentuk “benda/materi” di alam astral yang disebut dengan KHODAM. Di alam astral ini pula tempat keberadaan makhluk halus tingkat rendah sehingga saat seseorang bernegosiasi/berdiskusi dengan makhluk halus maka yang terjadi adalah sinkronisasi kehendak antara manusia dan makhluk halus di alam astral. Dan SINKRONISASI KEHENDAK INI DIHARAMKAN OLEH AGAMA. Sebab, kebanyakan bertentangan dengan hukum sebab akibat, hukum karma atau sunatullah. Ada konsekuensi atau akibat bila kita suka bermain ajian, menggunakan susuk, jimat atau tosan aji? Jawabnya mereka akan susah meninggal dunia. Jangan heran bila orang yang memasang susuk di tubuhnya sulit mati. Begitu juga dengan mereka yang punya ajian di tubuhnya. Kenapa? Sebab RUH KITA MASIH MEMILIKI KEMELEKATAN KEPADA ALAM NYATA/ALAM BUMI. Apa yang terjadi bila orang sulit mati? Dia akan sangat tersiksa karena jasad fisiknya sudah tidak berdaya dan tubuh ini hanya bertahan hidup secara singkat, sementara ruh ingin terbang menuju alam gaib halus. Ruh bisa masuk ke alam gaib halus karena tidak melekat di dunia fisik/bumi. Ruh yang masih punya hasrat dan keinginan duniawi bisa dipastikan akan menangis kesakitan. Mereka membutuhkan doa agar Tuhan berkenan mengangkat ruh ini lepas menuju alam gaib halus.
Maka, akan lebih bijaksana bila kita semua mempertimbangkan kembali dampak baik buruk, positif negatifnya memiliki ilmu-ilmu supranatural tersebut. Bila dirasa tidak/kurang bermanfaat jangan ragu untuk meninggalkan berbagai ajian bila kita “merasa” tidak membutuhkannya. Waspadai dengan adanya niat, kehendak, pikiran dan amalan buruk yang kita lakukan sehari-hari. Itu semua akan mempersulit kita untuk menembus dimensi gaib yang halus untuk bersimpuh di “kaki” TUHAN YANG MAHA HALUS